UMS Latih Mahasiswa Mengelola Konflik, Cetak Pemimpin Profesional
Universitas Muhammadiyah Surakarta melatih mahasiswa mengelola konflik melalui LKMM untuk mencetak pemimpin organisasi yang profesional.
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkomitmen mencetak pemimpin mahasiswa profesional dan berintegritas. UMS menggelar LKMM Fungsionaris Ormawa, dengan materi ketiga “Manajemen Konflik Organisasi”, untuk memperkuat kepemimpinan dan tata kelola organisasi mahasiswa.
Simak informasi menarik dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Prima yang bisa memperluas wawasan dan jadi referensi berguna untuk Anda.
Pentingnya Manajemen Konflik Dalam Organisasi Mahasiswa
Kegiatan LKMM ini diadakan di Hotel Syariah Lorin Solo, dihadiri oleh para aktivis Ormawa UMS, termasuk pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, serta Unit Kegiatan Mahasiswa. Peserta merupakan representasi dari organisasi di tingkat universitas maupun fakultas, menunjukkan cakupan luas pelatihan ini.
Materi “Manajemen Konflik Organisasi” menjadi sorotan utama karena dinamika konflik yang tak terhindarkan dalam setiap organisasi. Pelatihan ini secara khusus membahas berbagai aspek konflik dan strategi penyelesaiannya secara profesional dan konstruktif. Hal ini membekali mahasiswa dengan keterampilan penting.
Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., Wakil Dekan I Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik UMS, menegaskan bahwa konflik adalah fenomena alami. Menurutnya, konflik bersifat netral; dampaknya bisa destruktif atau konstruktif, tergantung pada cara pengelolaannya.
Paradigma Modern Dan Gaya Penyelesaian Konflik
Nur Aklis menjelaskan paradigma modern konflik, yang melihat konflik sebagai tanda dinamika organisasi yang sehat bila dikelola dengan baik. Materi ini mengulas anatomi konflik, mulai dari isu permukaan hingga akar terdalam seperti kepentingan, kebutuhan dasar, nilai, identitas, dan relasi antaranggota.
Peserta juga diperkenalkan pada tahapan eskalasi konflik menurut Louis R. Pondy. Selain itu, mereka mempelajari lima gaya penyelesaian konflik berdasarkan Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI): competing, collaborating, compromising, avoiding, dan accommodating. Pemahaman ini membantu mahasiswa memilih pendekatan yang tepat.
Pelaksanaan materi mencakup pemaparan konseptual, studi kasus organisasi mahasiswa, serta simulasi pendekatan mediasi. Nur Aklis menekankan perbedaan antara task conflict yang memicu inovasi dan relationship conflict yang berpotensi merusak tim. Mahasiswa dibekali teknik mediasi seperti active listening dan reframing.
Baca Juga: Kebangkitan Perempuan Desa, Inovasi SEKOPER Mahasiswa Undar Jombang
Strategi Pemimpin Dalam Menghadapi Konflik
Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa bertanya tentang sikap pemimpin menghadapi organisasi beragam latar belakang, komunikasi tidak efektif, dan masalah pribadi pengurus. Nur Aklis menjawab bahwa pemimpin harus mengidentifikasi apakah konflik bersifat personal atau struktural terlebih dahulu.
Pemimpin tidak boleh langsung menggunakan pendekatan competing, melainkan harus mengedepankan gaya collaborating dengan kecerdasan emosional. Dialog personal penting untuk memisahkan persoalan individu dari kepentingan organisasi, menjaga profesionalitas.
Pemimpin harus tegas menjaga profesionalitas, namun tetap kooperatif membangun komunikasi. Masalah pribadi diselesaikan secara empatik, sementara keputusan organisasi berdasarkan kepentingan bersama, transparansi, dan aturan disepakati. Ini mencegah konflik berkembang menjadi relationship conflict yang destruktif.
Mencetak Ormawa Yang Profesional Dan Berintegritas
Kegiatan ini dilaksanakan mengingat tingginya kompleksitas dinamika organisasi mahasiswa, yang melibatkan perbedaan latar belakang, perspektif, dan kepentingan. Kemampuan mengelola konflik menjadi kompetensi esensial bagi fungsionaris Ormawa untuk menjaga organisasi tetap produktif, harmonis, dan berorientasi pada tujuan bersama.
Melalui materi ini, mahasiswa UMS diajak untuk tidak menghindari konflik, melainkan mengelolanya secara dewasa dan profesional. Mereka didorong untuk melihat konflik sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang, bukan sebagai hambatan.
Para aktivis Ormawa diharapkan menjadi pemimpin yang tegas, kolaboratif, serta berintegritas dalam membangun budaya organisasi yang sehat dan berdaya saing. Mereka akan mampu menghadapi tantangan kompleks dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pencapaian tujuan organisasi.
Ikuti selalu informasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Prima untuk kabar terbaru mengenai edukasi, inovasi, dan layanan kesehatan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.ums.ac.id
- Gambar Kedua dari presenta.co.id
Post Comment